Berikan Bintangmu untuk blog ini !! Get 1 Million Hits, FREE!
Tampilkan postingan dengan label hancur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hancur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2011

ISLAM DIREMEHKAN (islam diremehkan orang) ISLAM

MENGAPA BEGINI !!!


a. Hujjah tekstual”, tidak susah dipertanyakan lagi karena dasarnya bisa dilihat diteliti baik dari Al-Quran maupun dari As sunnah.

b. Hujjah intelektual” kita bisa serahkan kepada para pemaham ilmiah yang memiliki disiplin ilmu masing-masing seperti tersebut tadi, bebas dari kesan apologetic apapun. Kalau Prof. Gibb ahli sejarah, maka dirujuk lagi dengan Ernest Gellner seorang ahli sosiologi agama. Di antara ucapannya: “di antara berbagai agama yang ada”. Kata Gellner, “Islam adala satu-satunya yang mampu mempertahankan system keimanan dalam abad modern ini tanpa banyak gangguan doktrinal. Dalam Islam, dan hanya dalam Islam”. Lanjut Gellner, pemurnian dan modernisasi, dan peneguhan umat di pihak lain, dapat dilakukan dalam satu bahasa perangkat yang sama …………… berkat warisan syariah yang tidak pernah lapuk. Kekokohan structural harus diangkat dari bawah, serta kemampuan mengambil alih dan merebut teknikalisme yang di monopoli Barat”.

2. Ungkapan dua kaum orientalis tadi baik Gibb maupun Gellner, bisa dirujuk ungkapan Professor Harun Nasution. Antara lain ungkapnya, “setiap berhujjah antar “Agama” maka Islam selalu unggul teristimewa dalam logika akidah”. Pantas pembawa konsep Ilahiyah Muhammad s.a.w menjadi “the best one of 100 famous persons”. Maka optimism ummat Islam bukan tidak beralasan bagi kaum muslimin. Hal ini dapat dipertimbangkan :

Pertama : Potensi Islam warisan kemanusiaan yang diberikan oleh Allah SWT. Hanya Islam yang masih orisinil keaslianya. Karena Allah sendiri yang memeliharanya, yang sesuai dengan fitrah manusia. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah (fitrah) Tidak lekang kena panas dan tidak lapuk karena hujan.

Kedua : Penduduk ummat Islam yang kurang lebih bersemangat milyar atau seperlima penduduk dunia. Dan Islam adalah agama yang paling muda yang penganutnya melebihi agama-agama terdahul. Meski ummat Islam banyak dibantai misalnya di Mongolia, di daerah bekas jajahan komunis, juga di Pakistan, jumlah Islam makin banyak, bagaikan air mengalir mencari tempat rendah;

Ketiga : Kekayaan alam yang melimpah di Negara-negara muslim, misalnya minyak bumi, di Negara-negara wilayah teluk sumber minyak, Brunei Darussalam, Indonesia, di wilayah muslim di Sovyet, di RRC. Ini berkah Allah menyediakan untuk membantu ummat muslim dalam rangka membendung penghinaan terhadap Allah oleh kaum kafir;

Keempat : Peradaban Islam kini banyak dijiplak oleh orang barat. Warisan Universitas Islam di al Hambra (Spanyol) meninggalkan jasa besar. Serangan Mongol ke Irak membawa peradaban Islam. Kita yakin peradaban barat baru 450 tahun, bila dibandingkan dengan peradaban Islam yang 1300 tahun sebanding, pantas kalau embrio peradaban barat adalah peradaban Islam.

Kelima : Janji Allah SWT yang tidak diingkari. Bahwa Allah SWT akan member kekhalifahan-Nya di muka bumi kepada orang yang beriman. Allah berfirman : “dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh behwa Dia bersungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia banar-banar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentousa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa tetap yang (tetap) kafir sesungguhnya (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (Q.S. 24:55)

3. Dalam mewujudkan suatu pegerakan apapun namanya termasuk kebangkitan Islam harus terbentuk adanya suatu structural yang kokoh kuat, tanpa itu adalah mustahil. Hal itu harus didukung oleh tiga fase

a. Perumusan ideology dan pemikiran

b. Strukturalisasi

c. Perluasan atau ekspansi

Ideology sebesara apapun melalui tiga fase itu. Misalnya : Komunisme liberalism dan jangan lupa zionisme Internasional Israel.

4. Di atas kita sudah menyebutkan penggerak-penggerak Islam secara individual Syayid Jamaludin al Afghani, Dr. Muh. Aqbal, Muh. Abduh, Muh Rasyid Ridhla dan sebangsanya, maka jangan ditinggalkan perlanjutnya ialah : (a). abul A’la Maududi dengan Jama’at Islamiyahnya, dan (b). Asy Syahid Hasan al Bana dengan Ikhwanul Musliminnya. Kedua tokoh ini adalah mempunyai gagasan besar yang sama. Keduanya berpendapat bahwa kejayaan Islam harus dikembalikan kepada “kekhalifahan Islam”. Keduanya berpendapat harus mulai dari bawah atau dasar yaitu :

a. Persoalan akidah yang kokoh

b. Pemahaman syariah yang menyeluruh

c. Pembenahan akhlak yang benar

Dan pembenahan harus dimulai dari : (a). Individu, (b). Keluarga, (c). Masyarakat dan Negara dan barulah Khilaah Islamiyah

5. Kedua tokoh itu mempunyai perbedaan sedikit, yaitu :

a. Maududi dengan Jama’at Islamiyahnya banyak menunjuk pada “figurisme” Maududi

b. Maududi lemah dalam kaderisasi;

c. Maududi banyak ceramah dan menulis buku daripada mencetak “kader”;

d. Hanya terbatas pada tanah India – Pakistan;

Berbeda dengan asy Syahid Hasan al Bana dengan Ikhwanul Muslimnya. Messkipun Hasan al Bana tokoh utamanya, namun tidak memunculkan :

a. Figurisme pada Hasan a Bana. Wibawa Ikhwanul Muslimin tidak kurang wibawameski meninggalkan Hasan al Bana;

b. Pergerakannya meluas ke penjuru dunia;

c. Lebih banyak mencetak kader daripada mencetak buku;

d. Dari emikirannya muncul murid-muridnya seperti Syayid Quthb, Muhammad Quthb, Hasan al Hadaibi, Umar Tilminasi, Dr. Yusup Qordhowi, Mustafa Masyur, Dr. Ali Juraisyah, Syeih Ahmad qaththan, Dr. Mustafa as Sibai;

6. Hasan al bana memang tidak mungkin difigurkan, karena umumnya terlalu pendek hanya 43 tahun. Beliau dilahirkan di bumi ini memang ditakdirkan untuk meletakkan dasar-dasar pergerakan dan dakwah yang asli telah hilang di zaman modern ini. Metode dakwahnya terus dikembangakan oleh para muridnya tanpa ada rasa khawatir originalitasnya. Tanah Palestina adalan ajang pengalaman teori pergerakan Hasan ala Bana. Sebagai wakaf dan sekaligus sebagai semangat “Jihad”. Hasil gerakannya ialah “gerakan Intifadhah” Yaitu suatu gerakan yang sulit ditumpas oleh Zionis Israel. Berbeda dengan gerakan lainnya seperti : (a). Islamic Trend Movement di Tunisia, (b). Front keselamatan Islam di Aljazair, (c) Ikhwanul Muslimin di Jordan, (d). dan Perjuangan Mujahidin di Afghanistan mengusir tentara Sovyet.

7. Apa benar bahwa kebangkitan Islam mewarnai kegiatan studi Islam di Barat ? dengan menerbitkan buku-buku Islam ? bila benar maka ini membangkitkan optimism, namun tidak menutup mata terhadap meningkatnya sekulerisme dalam barbagai aspek kehidupan. Mana yang akan menang ? bagaimana dengan Indoensia ? mari kita lacak sejak tahun 70-an Nampak ada pemulai pembelajaran pada Islam dari golongan menengah mulai mengkaji Islam di kota-kota dan di kampus. Namun isu pembangunan juga mulai mengarah modernisasi, seperti ucapan moderenisasi “Yes”, westernisasi “no” ! tapi kita juga sadar dampak pembangunan yang mengarah modernisasi sekaligus sekulerisme yang terjadi arus baliknya tahun 80-an. Mengapa ? boleh suatu pembangunan yang beraspek ekonomi manusia kekeringan spiritual. Itu sebab maka timbullah kajian Islam dengan berbagai modelnya.

8. Kita sadar bahwa fenomena sebelum tahun 80-an di Indoensia jika bicara tentang Islam maka kajiannya diserahkan atau menoleh ke organisasi-ogrganisasi Islam, misalnya partai politik Islam, PPP, atau organisasi ke-Islaman, seperti NU, muhammadiyah, HMI, PII dan lainnya. Seolah yang mempunyai Islam hanya organisasi atau partai politik Islam saja. Dan hal ini mulai cair menjelang tahun 80-an. Sesungguhnya dakwah memang tidak monopoli ormas atau parpol Islam semata, dakwah sesungguhnya adalah tugas setiap muslim. Tentu akan lebih efektif bila dalam bentuk organisasi yang terorganisir.

9. Kita merujuk pada masyarakat kampus sebagai komunitas yang boleh dikatakan representative, misalnya HMI kurang mendapat pasaran, padahal si setiap kampus memiliki Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Baru sesudah tahun 90-an mulai agak efektif dakwah di kampus setelah ada KAMMI. Namun perlu dicatat bahwa dakwah secara bebas bergaya kebarat-baratan yang melonggarkan nilai-nilai agama dicanangkan sebagai suatu doktrin, misalnya memunculkan istilah demokrasi yang cenderung liberal, maka tidak aneh muncul jama’ah-jama’ah baru. Misalnya Jama’ah Islam, Jama’ah Muslim Hizbullah, jama’ah Imran dan Jama’ah isa bugis. Disini Nampak ada kecenderungan :

a. Yang alergi isu jama’ah. Bagi mereka yang sudah beraktivitas dalam ormas-ormas Islam atau karena kepentingan politik, maka jama’ah isu politik atau bagi mereka yang menganggap sudah cukup bahwa jama’ah sudah dilakukan oleh ormas-ormas yang ada, tetapi dipihak lain menganggap ormas-ormas itu bukan jama’ah sebagaimana dimaksud oleh Rasullah s.a.w. berhubungan dengan (a). kelakuan, (b). cara berfikir anggotanya, atau karena mekanismena tidak sesuai dengan sunnah Rasullah.

b. Di lain pihak yang “obsesi” dengan jama’ah. Mereka tidak ikut berjama’ah karena tidak sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah, bahka bila mereka meninggal, meninggalnya itu adalah jalan jahiliyah.

10. Di lain pihak misalnya muncul sempalan-sempalan. Sempalan ini penyebabnya ialah karena sumbatan terhadap aspirasi kaum Musliin. Terutama oleh kaum politisi dan birokrasitis, sehingga menyebabkan aspirasi-aspirasi murni Islam tidak tertampung. Maka munucullah sempatalan, baik dalam bidang ideology, pemikiran syariat, maupun pola-pola pergerakan. Atas dasar itu maka perlu ada pemikiran secara menyeluruh sehingga mampu mengembalikan kepada makna Islam secara kaffah.

11. Untuk mengembalikan kepada Islam secara utuh sebagaimana konsep Ilahiyah maka diperlukan adanya Jama’atul Muslimin. Untuk itu perlu mengupas makna ummat Islam dari bahasa atau maupun geografisnya. Agar terwujudnya suatu “syura” sebagai lambing tertinggi yang darinya akan melahirkan berbagai kebijakan sebagai manifestasi political will” ummat. Berhubungan dengan itu tidak mungkin terwujud syura kalau tanpa “Imamah” atau system kepemimpinan.

12. Bila timbul pertanyaan siapa imamnya ? jawabanya tepat siapa yang layak menjadi imam untuk ummat. Yaitu yang harus terbentuk melalui syura tadi. Dalam wujud dan telah dibentuk melalui kerangka subuah amamah dan itulah Jama’atul Muslimin. Dalam pada itu mewujudkan tujuan umum maupun khusus. Kita harus sadar bahwa ummat Islam kini lalai dalam hal itu.

13. Mari kita rinci mengenai tujuan umum :

a. Agar ummat manusia megabdi kepada Rabb Yang Maha Esa;

b. Agar senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar;

c. Agar menyampaikan da’wah Islam kepada segenap ummat manusia;

d. Agar mengahapus fitnah dari seluruh muka bumi Allah ini;

e. Agar memerangi segenap ummat manusia sehingga mereka bersaksi yang benar (syahadatain).

14. Apa tujuan khususnya ?

a. Pembentukan pribadi muslim (binaa’ al-fard al-muslim);
b. Pembentukan rumah tangga muslim ( bina’ al-usrah al-muslimah);
c. Pembentukan masyarakat muslim (binaa’ al-mujtama’ al-muslim);
d. Penyetuan ummat muslim (tauhid al-ummah al-Islamiyah)

15. Boleh jadi para da’i ketika berda’wah mengenang kejatuhan kekhalifahan Turki Usmaniyah dengan memperhatikan juga jam’ah tabligh yang kini sedang dilaksanakan oleh beberapa jama’ah, misalnya :

a. Jama’ah Anshor as-Sunnah al-Muhammadiyah yang bekembang di mesir; Jama’ah ini mewakili gerakan da’wah yang berorientasi pada seruan social dan ilmu serta pengetahuan. Sering juga disebut sebagai gerakan salafy;

b. Jama’ah Tabligh yang lahir di India, jama’ah ini mewakili gerakan da’wah yang berorientasi Sufiyah;

c. Jama’ah Hizb at-Tahrir yang lahir di Yordania. Jama’ah ini mewakili da’wah berorientasi politik (as-Siyasi);

d. Jama’ah Ikhwan al Muslimin yang didirikan di Mesir. Jama’ah yang mewakili gerakan da’wah memiliki orientasi “syamil”(menyeluruh). Jama’ah ini berda’wah dalam berbagai aspek (syamil). Yaitu social, ilmu, pengetahuan, sufiyah, siasyyah dan bahkan harakiyyah dan Jihadiyyah (pergerakan sekaligus Jihad. Boleh jadi gerakan da’wah Ikhwanul Muslimin, seperti Jama’at Islami di Pakistan, Masyumi di Indonesia dan Fida’iyah Islam di Iran.
»»  read more

ISLAM HANCUR (islam dibilang hancur)

When Islam Breaks Down/Saat Islam Hancur



Muslim paling suka mengritik aspek2 budaya Barat. Mereka hanya memandang Barat dari satu segi saja : sbg sumber budaya sex bebas (Barat versi Hollywood). Namun Muslim menolak utk mengakui bahwa ada juga aspek lain dari budaya Barat ini, bahwa kebebasan juga mengantar pada kebebasan utk bertanya, berpikir dan berkreasi, yg pada akhirnya hanya menghasilkan kekuatan.

Pemikiran picik ini pada dasarnya mengakibatkan sikap reaksioner negatif Muslim di jaman sekarang ini. Muslim tulen takut bahwa kalau ia mengijinkan kebebasan satu incipun, pada akhirnya Muslim akan kehilangan kontrol.

Ketakutan ala Muslim ini sangat nampak di masyarakat2 Muslim yg semakin membengkak jumlahnya di kota saya, Birmingham, England. Hanya sebagian kecil Muslim, dari golongan menengah atas yg terdidik dan spt orang2 Barat layaknya, menganggap agama sbg masalah pribadi. Tidak perlu digembar-gemborkan. Tapi Muslim2 tulen itu emoh integrasi dan lebih suka utk bergerombol di satu daerah, melanjutkan tradisi mereka yg dibawa dari pedalaman Punjab.

Mereka tidak pernah mengantisipasi ataupun menerima transisi budaya yg tidak bisa dielakkan. Mereka hanya interes utk menjaga keutuhan agama, tradisi dan budaya mereka, walau generasi tua mereka kini sadar bahwa cara berbusana ala Muslim tidak menjamin penerimaan Islam dlm hati. Sex bebas, narkoba, kemurtadan, juga rawan dlm masyarakat mereka. Inilah membuat mereka semakin frustrasi dan semakin fanatik.

Belum lama ini saya berdiri diluar halaman rumah sakit tempat saya kerja, menunggu taxi bersama2 dgn dua Muslimah yg mengenakan abaya hitam penuh, hanya mata mereka yg kelihatan. Yg satu mengatakan pada temannya, “Minta rokok dong, Say ; gua gerah nih !” Nah, cabutlah tekanan budaya dari anak2 muda ini, dan mereka akan membuang kostum mereka dalam sekejap.

Siapapun yg hidup di kota spt kota saya ini pasti akan heran, dari mana datangnya frustrasi Muslim ini. Apakah ini memang intrinsik dlm Islam yg membuat Islam tidak mampu mengadaptasi kpd dunia modern ? Apakah memang ada elemen esensial yg menjebak Darul-Islam kpd keterbelakangan abadi yg mengakibatkan Muslim terus menerus merasa terhina ? Muslim tahu bahwa seluruh dunia Arab MINUS MINYAKNYA sama sekali tidak berpengaruh pada dunia secara ekonomis, dibandingkan dgn perusahaan telpon Nokia dari Finlandia.

Problema Islam adalah kegagalannya memisahkan urusan agama dari urusan negara. Berbeda dgn agama Kristen, yg menghabiskan abad2 pertamanya mengembangkan institusi2 yg pada akhirnya mengakui pemisahan antara gereja dan negara. Islam dari permulaannya memang merupakan negara dan agama, satu dan tidak terpisah, dgn tidak ada pembedaan antara otoritas negara dan agama.

Kekuasaan Muhamad mencakup spiritual dan kenegaraan, dan inilah model yg diwariskan pada pengikutnya. Karena menurut Islam, ia nabi terakhir, yg kesempurnaannya tidak boleh ditantang ataupun dipertanyakan karena ini hanya akan membawa kelemahan bagi agamanya.

Namun modelnya ini mengakibatkan dua problema.

Yang pertama, adalah politis. Muhamad tidak menginstitusikan cara2 yg dpt digunakan pengikutnya utk memilih penerus. Akibatnya terjadilah perpecahan antara Sunni-yg mengikuti bapak mertuanya (Abu Bakr) dan Shiah (yg mengikuti menantunya, Ali).

Belum lagi legitimasi pemimpin negara yg selalu bisa ditantang pemimpin spiritual, yg selalu mengikuti contoh Muhamad, yg selalu menganggap diri lebih tinggi secara spiritual ataupun otoritas; mereka yg lebih fanatik dalam Islam jelas jauh lebih kuat dlm soal agama ketimbang mereka yg moderat. Karena tantangan kaum beragama ini, TIRANIlah menjadi jaminan stabilitas dan pembunuhan adalah satu2nya cara utk reformasi. Oleh karena itu kita tinggal nantikan The Saudi Time Bomb : cepat atau lambat, kaum agama akan mengadakan revolusi religius utk mendepak dinasti Saud yg dianggap korup dan hedonis.

Problema kedua adalah segi intelektual. Di Barat, Reformasi membawa kebebasan bagi individu utk dapat berpikir sendiri yg pada akhirnya mengakibatkan kemajuan pesat yg terbendung. Islam, tanpa adanya ruang terpisah dan sekuler dimana pemikiran bebas dapat mengalir dgn tenang tanpa dirantai agama, ketinggalan secara menyedihkan: selama 1400 tahun, sampai sekarang.

Budaya dimana semua gerak gerik dan adat harus mendapat pengesahan agama, akan menganggap setiap perubahan sbg suatu ancaman atas seluruh sistim kepercayaan.

Cara hidup mereka yg dibayang2i oleh ketakutan dihajar Allah-- baik secara intelektual dan politik—akan runtuh kalau diutak-atik. Oleh karean itu, kepatuhan adalah pertahanan terhdp segala bentuk keraguan dan tidak memungkinkan ko-eksistensi secara sederajad dgn mereka 2yg tidak sama kepercayaannya.

Bukan kebetulan bahwa hukuman bagi murtad dlm Islam adalah MATI. Ini cara Islam menghindari pertanyaan mantan pengikutnya akan ke-ilahian sang nabi.

Dlm pengalaman saya, Muslim2 tulen menuntut kebebasan utk mengritik doktrin dan adat orang lain, sering dgn semangat meluap2. Saya ingat pengalaman saya tinggal dgn Muslim Pakistan di Afrika Timur, orang sangat soleh dan baik, yg namun demikian menghabiskan beberapa malam mengecam absurditas Kristen : Trinitaslah, Resureksi yg tidak mungkinlah dsb dsb. Walau saya sendiri bukan Kristen, saya membalasnya dgn menyebut absurditas dlm Islam spt adat berhala hijrah ke Mekah ataupun kepercayaan Muhamad pada jin dsb dsb. Tidak heran kalau persahabatan kami tidak berlangsung lama.

Status Quran yg tidak boleh dipertanyakan menghasilkan pendidikan, pemikiran dan masyarakat Islam yg mandeg dan lemah. Sebelum Muslim didalam negerinya sendiri, bebas mengecam Quran sbg buku amburadul yg inferior yg penuh kontradiksi —atau spt apa yg dikatakan Carlyle, bahwa Qu’ran adalah “kumpulan kata2 yg membingungkan dan melelahkan dan tidak ada habis2nya....” Sebelum Muslim dibebaskan utk menyusun kembali dan memodernisasi Qu’ran dng interpretasi kreatif, mereka jangan heran kalau mereka hanya bisa puas dgn status terbelakang mereka.

Sbg ilustrasi, saya berikan contoh buku karangan Sir Arthur Conan Doyle, yg pertama terbit thn 1898, yg sebenarnya fiksi tapi sangat mirip dgn fakta. Buku ini bercerita ttg seorang pemimpin karismatik dan fundamentalis, Muhamad al-Mahdi, yg mencoba mendirikan teokrasi di Sudan dgn memberontak melawan kekuasaan Inggris-Mesir. Buku yg disebut dgn 'The Tragedy of the Korosko' ini adalah cerita ttg sekelompok turis di Mesir yg disandera oleh kelompok Mahdi dan lalu dibebaskan oleh Korps Onta Mesir. Seorang mullah Mahdi yg menyekap para turis mencoba memaksakan Islam kpd para turis Eropa & AS itu, menghina peradaban maju sbg tidak penting dan tidak berguna.

“ 'Ttg ajaran [sains] yg kalian sebutkan . . . ’ kata sang Mullah . . . ‘Saya sendiri belajar di Universitas Al Azhar di Kairo, dan saya tahu apa yg anda maksudkan. Tapi ajaran orang2 beriman tidak spt ajaran para kafir, dan tidak pantas utk terlalu memata-matai cara2 Allah. Ada bintang yg memiliki buntut . . . dan ada yg tidak; apa gunanya utk mengetahui mana yg punya dan mana yg tidak ? Karena Tuhan juga yg menciptakan mereka, dan mereka semua selamat di tanganNya. Oleh karena itu jangan anda besar kepala karena ajaran dari Barat, dan mengertilah bahwa hanya ada SATU kebijakan, yaitu ketakwaan pada keinginan Allah yg oleh nabi terpilihnya sudah dipaparkan utk kami dalam Buku ini.' "

Dan inilah problema dgn Muslim ! Mereka terbentur dan mandeg pada Quran, sambil juga menginginkan kemajuan. Muslim ingin penyempurnaan ajaran abad ke 7 mendominasi abad ke 21 ! Muslim ingin kemajuan yg dibawa oleh kemerdekaan berpikir, tapi mereka tidak suka dgn kemerdekaan berpikir.

Oleh karena itulah Muslim dihadapkan pada dilemma : tinggalkan agama mereka atau selama2nya ketinggalan dgn kemajuan teknis manusia lainnya. Dan orang yg menghadapi dilemma yg pelik, selalu akan MARAH : mereka akan histeris. Tetapi kemarahan ini, tuntutan mereka agar lebih dihormati dari non-Muslim bukan merupakan tanda kekuatan. Ini tanda KELEMAHAN —atau persisnya, KERAPUHAN — Islam dlm dunia modern, yg frustrasinya suatu saat akan meluap.

Kontrol yg dimiliki Islam atas pengikutnya dlm era globalisasi ini mengingatkan saya pada cengkraman Ceausescu terhdp rakyat Romania: sebuah cengkraman absolut, sampai suatu hari Ceausescu tampil di balkon istananya dan diteriaki oleh massa yg sudah imun pada ketakutan. Nah, mulai detik itu tamatlah riwayat sang tiran.

Salah satu tanda semakin melemahnya cengkraman Islam terhdp pengikutnya di Inggris saya lihat sendiri dari pemuda2 Muslim yg semakin banyak membanjiri penjara2 di Inggris. Ternyata Muslim2 ini sama sekali tidak memiliki interes kpd Islam sama sekali. Mereka tidak solat, tidak menuntut makanan halal, tidak baca Quran, tidak mau menemui ustadz dsb. ‘Penyebaran’ Islam dlm penjara hanya diarahkan kpd orang2 Jamaica, kelompok lain yg juga mengalami ‘inferiority complex.’ Mereka masuk Islam hanya sbg protes atau balas dendam terhdp masyarakat yg menghukum mereka. Tidak kurang, tidak lebih !

Tetapi Islam tidak sedikitpun memperbaiki tingkah laku pemuda2 Muslim di penjara. Sebagian besar mengkonsumsi & berdagang heroin, sebuah kebiasaan yg sama sekali tidak dikenal oleh rekan2 mereka di penjara yg Sikh ataupun Hindu.

Yg ditunjukkan oleh pemuda2 ini adalah kekakuan tradisi orang tua mereka yg dari luar nampak soleh. Tapi kalau topeng itu diangkat, isinya kosong melompong. Muslim2 muda ini tahu benar fakta ini.

Islam dlm dunia modern sangat lemah dan rapuh. Islam tidak kuat : itulah alasan Muslim sering berteriak dan mengaum. Para pengungsi Iran yg membanjiri Barat sudah lari dari Islam. Ini saya lihat dari kota ke kota. Islam akan sangat bahaya utk waktu yg pendek, tapi pada akhirnya akan mati. Kelompok fanatic dan para suicide bombers bukan tanda bangunnya Islam, tetapi tanda gemercing kematiannya.

»»  read more